Bagaimana Cara Menghadapi Single Shaming?

Sumber : pinterest.com

I like being single, I`m always there when I need me – Art Leo

Seringkali seseorang mendapatkan pertanyaan mengenai status lajangnya seperti “pacarnya sekarang siapa”, “kok masih jomblo sih”, “aku cariin ya”, dan masih banyak lainnya. Hal itu menjadi anggapan bahwa diri kita tidak laku, tidak mampu, kesepian, tidak bahagia, atau gagal dalam menjalin hubungan romantis. Lebih parahnya lagi, kondisi ini diperburuk dengan penghinaan secara tidak langsung dari orang sekitar kita. Seringkali ada yang menawarkan diri untuk membantu mencarikan pasangan meskipun tidak diminta, sehingga rasanya seolah-olah tidak mampu mendapatkan pasangan sendiri.

Berdasarkan penelitian baru dari seorang dating expert, Harley Quinn, mengenai single shaming, telah ditemukan bahwa banyak orang yang pernah mengalaminya sejak awal pandemi. Mereka mengatakan telah mendapatkan perilaku yang kurang menyenangkan karena status lajang yang disandang dan hidup sendiri. Walaupun demikian, ada juga yang merasa puas dengan status hubungan mereka.

Selanjutnya, stigma tersebut memunculkan perasaan tidak nyaman dan ketakutan pada seseorang. Padahal, pemaknaan istilah lajang atau jomblo memiliki 2 jenis, yaitu disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal berdasar pada kondisi tertentu yang membuat seorang individu tidak memiliki pasangan, misalnya ingin fokus berkarier terlebih dahulu, belum bertemu dengan kriterianya, dan masih banyak lainnya. Sedangkan faktor internal yakni dilandasi atas kehendak atau pilihannya sendiri untuk tidak menjalin hubungan romantis dengan orang lain.

Untuk membantu kita menghentikan percakapan yang menghakimi sejak awal, berikut beberapa saran tentang cara menanganinya

Tanyakan pada diri sendiri mengapa kita merasa dihakimi

Perhatikan baik-baik mengapa kita merasa dihakimi oleh “mereka”. Psikolog klinis Dr. Joshua Klapow asal Universitas Alabama (Amerika Serikat) merekomendasikan untuk bertanya pada diri sendiri, “Apakah mereka benar-benar mengatakan pernyataan yang menghakimi? Apakah saya merasa tidak baik untuk menjadi lajang?”. Jika tidak demikian, mungkin itu hanyalah perasaan yang terbawa akan suasana.

Meskipun sangat mungkin bahwa kita memang sedang dihakimi atau mungkin juga rasa tidak nyaman, frustrasi, dan ekspektasi tentang apa yang orang akan pikirkan. Menjadi lajang mendorong interpretasi kita tentang bagaimana komentar, nada, dan percakapan kita ke depannya untuk lebih baik.

Jangan Mudah Terpancing

Bagaimanapun juga, menjadi lajang bukanlah sesuatu yang memalukan. Sangat mudah untuk jatuh ke dalam penjelasan mengapa kita lajang, tetapi ingat kita tidak perlu menjelaskan hidup kita kepada orang lain.

“Kuncinya adalah jangan sampai kita terpancing dan terprovokasi dengan kata kata mereka,” kata Dr. Klapow asal Birmingham. “Hal ini untuk membuat pernyataan yang jelas tentang bagaimana perasaan kita tentang hidup, apa yang kita nikmati secara khusus, dan bagaimana mengatasi kemungkinan penilaian dengan memotongnya dengan hal positif tentang hidup kita sendiri.

Alihkan ke Topik Lain

“Kita dapat mengalihkan percakapan ke arah yang berbeda dengan memiliki gudang topik yang kita rasa nyaman untuk didiskusikan,” Dengan membalik percakapan menjadi apa yang kita sukai tentang menjadi lajang, karier, kehidupan sosial, dan hobi kita dalam hidup. Serta dapat menyampaikan bahwa menjadi lajang tidak memengaruhi kita.

Sekali lagi, respons singkat akan cukup untuk menghentikan percakapan yang tidak nyaman sejak awal dan untuk mengomunikasikan bahwa kita percaya diri tentang hidup kita sendiri.

Dan juga banyak kegiatan menyenangkan yang dapat kita lakukan sebagai seorang lajang. Kita harus yakin bahwa sebuah kebahagiaan bukan dilihat dari status pernikahan atau status single. Kita semua menyenangkan, cantik, pintar, menarik menurut versi kita masing masing. Jangan menganggap bahwa kita lebih rendah daripada orang lain, dibuat merasa seperti sampah karena tanpa pasangan dan dikenal sebagai “single but not happy”. Jadilah seorang lajang yang berkualitas, berhenti memikirkan masalah ke-jomblo-anmu terus menerus. Jadikan hal ini waktu yang tepat untuk menata diri.

Penulis: Nur Dewi Anggraini

Referensi:

Afifah, C. (2005). Perempuan Melajang. (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).

Oktawirawan, D. H. (2020). Stigma terhadap Pemuda dengan Status Lajang (Studi Kualitatif). Jurnal Dinamika Sosial Budaya, 22(1), 21-28.

Prabaswara, S. (2015). Hubungan Fear Of Being Single Dan Desakan Menikah. (Undergraduate thesis, Universitas Indonesia)

Tags:

Share this post:

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *